| | | | | | | |
Kamis, 23 April 2015  
DariRiau.com / Ragam / Mahasiswi Riau Bicara Soal Nasib Anak Bangsa

Mahasiswi Riau Bicara Soal Nasib Anak Bangsa


Senin, 30/03/2015 - 09:06:53 WIB
DARIRIAU.com - "Mau Dibawa Kemana Nasib Anak Bangsa?", Sebuah tema menarik yang dibahas dalam Seminar pada Ahad (29/3)di Aula Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau. 

Acara yang ditaja oleh Muslimah Hizbut Tahrir Chapter Kampus Pekanbaru ini dihadiri oleh sekitar 150 mahasiswi dari seluruh universitas di Kota Pekanbaru.

Dina Hidayat, S.E, M.Si. Ak, dosen yang juga aktivis Muslimah HTI Riau, mengatakan bahwa rakyat Indonesia saat ini hanya bisa gigit jari akibat dari neoliberalisme yang diterapkan pemerintah di negara ini. 

Ia menjelaskan bahwa neoliberalisme adalah sebuah paham yang meminimalisir atau bahkan meniadakan peran negara dalam pengaturan urusan rakyat, menjadikan rakyat harus berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Realitasnya adalah banyaknya badan-badan milik umum seperti migas, listrik, jalan tol, dll diserahkan pengelolaannya kepada pihak swasta, baik lokal maupun asing, dan bukannya dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyatnya.

Menaggapi permasalahan yang dipaparkan pemateri pertama, Kurnia Budyanti, M.Pd (Muslimah HTI Riau) mengatakan bahwa kondisi yang timpang saat ini tidak ditemukan di dalam sistem Islam. 

"Adik-adik mahasiswa bisa lihat bagaimana kondisi perempuan saat ini. Kapitalis-demokrasi yang diterapkan saat ini menjadikan perempuan sebagai alat untuk memasarkan komoditi para pengusaha yang berada di belakang pemerintah saat ini. Akibatnya perempuan meninggalkan peran utama mereka sebagai ibu dan pengatur rumah tangga suaminya demi memenuhi kebutuhan hidup yang sangat tinggi," jelasnya.

Dalam sesi diskusi, salah seorang mahasiswa dari Universitas Riau menanyakan tentang bagaimana cara untuk merubah sistem sekuler saat ini menjadi sistem pemerintahan Islam tanpa mendiskriminasi agama lain yang ada di Indonesia. 

Yanti menjawab bahwa jika sistem Islam diterapkan, maka tidak hanya mendatangkan kesejahteraan bagi orang muslim tapi juga bagi non-muslim. "Hal ini terbukti dari penerapan Islam selama lebih dari 1300 tahun, yang dimulai dari masa Rasulullah SAW hingga Kekhilafahan Utsmani, belum pernah tercatat adanya diskriminasi yang dilakukan Islam terhadap agama lain," tuturnya. 

Acara ditutup dengan musikalisasi drama yang menggambarkan bobroknya suatu negeri ketika aturan Islam dicampakkan. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam bukan hanya untuk muslim saja. Oleh karena itu, pentingnya mengembalikan sistem pemerintahan kepada sistem Islam dibawah Khilafah Islamiyah. (rls)



| | | | | | | |
Redaksi
Copyright 2012-2015
PT. INSPIRASI DARI RIAU, All Rights Reserved