Hujan Berlumpur Panas Berdebu
PT RBH Tak Bertanggung Jawab Soal Kerusakan Jalinsam
Rabu, 09/10/2013 - 01:04:33 WIB
TEMBILAHAN - Malang benar nasib masyarakat yang tinggal di sepanjang Jalan lintas samudra (Jalinsam) penghubung Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) dengan kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mulai dari Simpang Geranit Kecamatan Batanggansal-Inhu hingga Kecamatan Kempasjaya-Inhil.
Rumah-rumah masyarakat di sepanjang Jalinsam bak disiram lumpur jika musim panas berlalu sebab debu jalan yang hinggap di rumah warga di campur aduk oleh air.
Beberapa desa yang berada di sepanjang jalinsam diantaranya adalah Desa danaurambai Inhu, sedangkan desa di Inhil adalah, Desa Petalongan, Sencalanag, Pancur, Pengalihan, Kempas jaya.
Selain kondisi badan Jalinsam yang terdapat disana-sini lobang menggangga akibat aspal dibadan jalan sudah habis terkeluas Kecelakaan lalulintas (Lakalantas) kerap menjadi penyemah Jalinsam.
Bukan hanya itu, pantauan di lapangan Minggu (6/10) sepanjang Jalinsam saat panas, rumah warga banyak yang ditutup, hal ini diakibatkan debu jalan yang beterbangan masuk kerumah dan hinggap di makanan. Jika tidak diantisipasi dengan menutup pintu maka dikawatirkan makanan yang terhidang tidak bias di konsumsi lagi.
"Disini kalau hujan berlumpur, kalau panas jalan kami berdebu, penyebab kerusakan jalan kami adalah angkutan batubara milik PT Riau Bara Harum (PT RBH) yang tidak bertanggung jawab," ujar Caleg Partai Hanura Zulpen Zuhri.
Disampaikannya, Lobang yang menggangga di sepanjang jalinsam tidak ditutup oleh pihak PT RBH mungkin mereka beralasan kalau saat ini Jalinsam sudah di kerjakan dengan sistim Rigit (Kontruksi tulang beton) anggaran pemerintah dan yang menutup lobang di badan Jalinsam adalah pekerja Rigit.
Tahun 2007 lalu ujar Zulpen, Jalinsam dibangun dengan sistim aspal dan diawali dengan pengerasan jalan yang maksimal dari Rumbai jaya hingga Simpang geranit namun tidak sampai setahun jalan tersebut roboh oleh lalu-lalang armada angkutan batubara milik PT RBH dengan kapasitas muatan 36 ton sampai 40 lebih.
"Tidak ada kepedulian PT RBH dengan masyarakat sepanjang jalinsam, jika pihak manajeman PT RBH tidak menjalin kerjasama baik pembangunan desa atau CSR maka masing-masing desa kedepan bias menutup akses jalan khusus untuk armada batubara milik RBH," jelas Zulpen.
Sangat prihatin kata Zulpen, melihat kondisi Jalinsam saat ini, Pemerintah provinsi pernah menegaskan kalau armada angkutan PT RBH jangan lagi melintasi jalinsam, untuk mengangkut batubara milik PT RBH boleh-beleh saja namun dengan cara membangun jalan sendiri.
"Bisa ditanyakan ke masing-masing masyarakat desa di sepanjang jalinsam, apa yang mereka terima dari RBH, bantuan untuk kegiatan kemasyarakatan pun tidak ada," jelasnya. (fad)