DARIRIAU.com - Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 29 Rumbai Pesisir, Pekanbaru, membantah mengeluarkan siswi kelas IX-3 berinisial (WA), tanpa melalui prosedur. Pihak sekolah mengaku orang tua WA lah yang meminta anaknya untuk pindah sekolah.
Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala SMPN 29 Rumbai Pesisir Pekanbaru, Syafrida Ali SPd. "Kita tidak pernah mengeluarkan siswi kita WA itu secara sepihak dari sekolah, yang ada adalah orang tuanya yang meminta Dia pindah," jelas Syafrida, Senin (10/11) kepada wartawan, di kantornya.
Syafrida menceritakan kronologis bagaimana WA pindah dari sekolah yang dipimpinnya tersebut, bermula dari gurauan dari rekan-rekannya di sekolah yang meledek WA dengan kata-kata cewek 'cabe-cabean'. Menyikapi hal itu, pihak sekolah memanggil Tiga orang peserta didiknya yang mengatakan hal itu, untuk meminta maaf kepada WA.
"Kita sudah melakukan penyelesaian dengan memanggil ketiga peserta didik kita yang mengatakan hal itu, dan juga memanggil orang tua WA, guna menyelesaikan masalah tersebut, dan ketiga peserta didik kita sudah saling memaafkan, bahkan juga diantara orang tua masing-masing," jelasnya.
Akan tetapi usai permasalahan tersebut, Wali kelas WA, sering melihat WA melamun di kelas, bahkan ketika jam pelajaran berlangsung pun demikian, atas hal itu menurut Kepsek, pihak sekolah baik itu melalui Wali Kelas, dan juga guru BK juga telah melakukan pemanggilan, guna menanyakan perubahan sikap WA.
"Termasuk mempertanyakan perihal yang menjadi bahan ledekan teman-temannya, dan ketika itu WA mengakui perbuatannya. Hingga akhirnya pihak sekolah memanggil orang tua WA ini untuk datang ke sekolah pada tanggal 2 September, dan ketika itu juga dihadapan orang tuanya yang saat itu dihadiri oleh Ibu nya, WA mengakui perbuatannya," kata Kepsek.
Dan ketika itulah, menurut Kepsek, pihaknya membuatkan surat permohonan pindah sekolah yang ditandatangani Ibu WA, namun hari itu juga surat tersebut dibatalkan. "Karena Ayah WA menelpon saya dan meminta agar anaknya bisa tetap bersekolah di sini," pungkasnya.
Dia menambahkan, setelah mengabulkan keinginan Ayah WA, pihaknya dengan alasan untuk memberi kesempatan bagi WA untuk menenangkan diri, memberi skor selama Empat hari kepada WA untuk tidak masuk sekolah, akan tetapi pada hari Kelima WA tetap tidak masuk, dan berdasarkan keterangan orang tuanya sedang dalam keadaan sakit, dengan melengkapi surat keterangan sakit.
"Lalu pada 22 September 2014, waktu itu datang Ibu WA bersama kerabatnya, untuk mengurus surat pindah. Ketika itu kita mempertanyakan kepada mereka apakah betul telah mendapat sekolah untuk sang anak, karena WA saat ini tengah ke IX dan akan tamat, ketika itu orang tuanya mengaku telah mendapatkan sekolah, atas dasar itulah kita mengeluarkan surat pindah," jelasnya lagi.
Namun Syafrida mengaku kalau pihaknya kaget ketika dua hari setelah itu orang tua WA melalui kuasa hukumnya menyampaikan surat tuntutan kepada pihak sekolah, dengan alasan mengeluarkan WA secara sepihak. "Sekarang ini dengan berbagai pemberitaan di media, kita yang merasa difitnah, padahal kita tidak pernah mengeluarkannya, orang tuanya sendiri yang meminta surat pindah untuk anaknya," ujar Syafrida.
Ketika ditanya mengenai kepribadian WA selama di sekolah, Kepsek mengaku kalau WA tidak pernah membuat sesuatu yang melanggar aturan sekolah. "Dia tidak pernah bolos, dan secara akademik nilainya juga bagus, hanya saja kita tidak bisa mengawasi tingkah lakunya di luar sekolah, itu menjadi tanggung jawab orang tua," ungkapnya.
Menanggapi apa yang disampaikan sang Kepsek, Ibu WA dan Ayah nya yang ditemuai di rumahnya mengaku kalau apa yang disampaikan Kepsek dengan mengatakan bahwa anaknya mengakui melakukan hal seperti yang diutarakan teman-temannya, tidak benar.
"Karena saat itu anak saya dalam tertekan, dia hanya mengangguk-angguk, dan tidak ada ngomong ketika dituduh hal seperti itu, saya tahu persis ketika itu anak saya menggigil ketika disampaikan hal itu kepadanya oleh pihak sekolah," kata Mery ibu WA.
"Putri saya tertekan secara psikologis. Bahkan, untuk membantah tuduhan itu, atas inisiatif sendiri dia mengajak kami melakukan pemeriksaan diri ke balai pengobatan dan rumah bersalin untuk pemeriksaan keperawanan, dan dari surat keterangan yang dikeluarkan dokter pada rumah bersalin tersebut, bahwa putrinya masih keadaan perawan," sambung Ayah WA, Supriyadi.
Supriyadi menegeskan, pihaknya hanya ingin mendapat keadilan dalam kasus ini, "Kita hanya ingin membuktikan kebenaran, melalui fakta yang sesungguhnya," tegas Supriyadi. (ris)