| | | | | | | |
Kamis, 05 Desember 2013  
DariRiau.com / Budaya / Islam Mengatur Harkat Martabat Perempuan

Islam Mengatur Harkat Martabat Perempuan

Budaya -
Senin, 02/12/2013 - 09:14:19 WIB

DARIRIAU.com - Banyak kalangan menilai rendahnya sumber daya perempuan terjadi lantaran ketidak adilan gender, sistem budaya tradisional yang lebih berpihak kepada laki-laki. Akibatnya, kaum perempuan termarjinalkan dan diexploitasi oleh laki-laki.

Hal itu dikemukakan Pembantu Rektor I UIN Suska Riau Prof. Dr. Munzir Hitami, dalam kegiatan seminar membangun sensitivas gender beberapa waktu lalu.

Dikatakan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mempengaruhi pemahaman suami istri terhadap tugas dan kewajiban dalam rumah tangga. "Gender mengharuskan keseimbangan antara laki-laki dengan perempuan," sebutnya.

Munzir menegaskan, Islam mengatur harkat martabat perempuan dari eksploitasi dan dianggap rendah, sehingga diangkat secara karakteristik dan psikologi dapat sama dengan kaum laki-laki.

Gender bukan persoalan feminisme namun persoalan perempuan kini lebih sering dieksploitasikan secara komersial dan hegemoni kapitalis. Perempuan dijadikan objek komersialisasi terhadap seks dengan mengumbar keindahan terhadap publik.

"Mereka melanggar norma dan adat yang berlaku, padahal, dalam aktivitas mereka harus mendukung harkat dan martabat gender dan dilakukan secara seimbang antara hak dan kewajiban dalam melayani suami, mengurus anak maupun keluarga. Setelah itu baru dapat berkiprah aktif ditengah masyarakat," ungkap Munzir.

Sementara, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Masyarakat UIN Suska Riau Drs Husni Thamrin, MSi menjelaskan, gender merupakan objek kajian untuk dialkukan penelitian oleh para dosen. Persoalan gender baik makro ataupun mikro, serta tidak menyimpang dari nilai sosial masyarakat, maka sangat bagus untuk dikaji lebih dalam lagi.

Saat ini, posisi perempuan di tengah masyarakat belum menunjukkan kesetaraan dengan kaum laki-laki. Ini dapat dilihat dari berbagai bidang, baik ekonomi, sosial budaya, pendidikan, politik, dan hukum. "Penyebab perempuan tidak bebas bergerak dan dibatasi ruang gerakannya, sehingga perempuan sulit untuk mengembangkan diri berkiprah serta berprestasi," ungkapnya.(nik)

(0) Komentar

[ Kirim Komentar ]
Nama
Email
Komentar



(*Masukkan 6 kode diatas)

 
| | | | | | | |
| Redaksi | Info Iklan |
Copyright 2012 DariRiau.Com, All Rights Reserved