Hotel Berperan Cegah Penyebaran HIV/AIDS
Otonomi -
Senin, 21/10/2013 - 17:58:04 WIB
DARIRIAU.com - Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten Bengkalis menggelar workshop sehari, Senin (21/10) tentang penanggulangan HIV/AIDS bagi pengelola hotel, wisma dan penginapan di kecamatan Bengkalis. Tampil sebagai pembicara dalam workshop tersebut Ketua KPA Kabupaten Bengkalis yang juga Wakil Bupati Suayatno, Sekretaris Eksekutif KPA Riau Ismail Mahyudin serta dari Dinas Kesehatan Bengkalis.
Kegiatan yang dilaksanakan di Wisma Sedaro Kito kota Bengkalis itu diikuti sekitar 20 peserta yang mayoritasnya adalah pengelola hotel, penginapan dan wisma yang ada di kecamatan Bengkalis.
Suayatno dalam pengarahannya menyebutkan bahwa penyebaran HIV/AIDS di seluruh kabupaten Bengkalis sudah pada angka memprihatinkan. Penyebaran penyakit mematikan tersebut tidak hanya di kecamatan Mandau dan Pinggir, tetapi juga ke kecamatan Bengkalis dan Bukitbatu.
Pada kesempatan itu Suayatno menyebutkan bahwa berdasarkan data yang ada, mereka yang teridentifikasi tertular virus HIV/AIDS sebanyak 251 orang, dengan rincian terjangkit HIV laki-laki 76 kasus, perempuan 129 kasus. Kemudian yang sudah dinyatakan positif terkena AIDS untuk laki-laki berjumlah 40 orang dan perempuan 6 orang, dengan total keseluruhan sudah mencapai angka 251 orang per-Agustus 2013.
"Saat ini di seluruh Indonesia, korban yang sudah terjangkit virus HIV/AIDS mencapai 7 juta jiwa yang tersebar diseluruh provinsi. Umumnya, pada penderita HIV/AIDS tersebut dikarenakan berganti-ganti pasangan, terutama dengan pekerja seks komersial (PSK), menggunakan jarum suntik narkoba bergantian serta dari ibu menyusui. Oleh karena itu, melalui workshop ini, saya mengimbau kepada pengelola hotel untuk dapat berperan mencegah penularan HIV/AIDS di kecamatan Bengkalis," imbau Suayatno dalam paparannya.
Diterangkan juga, bahwa penyebab penyebaran virus HIV/AIDS begitu menggurita tidak lain karena prilaku yang negatif, serta faktor 3 M. Yang dimaksud 3 M tersebut menurut Suayatno adalah Man (manusia), yang tidak lain karena prilaku negatif dan cenderung suka melakukan hal-hal yang dilarang agama.
M yang kedua adalah Money (uang, red), dimana transaksi seksual terjadi karena biaya, dimana seks juga sudah menjadi sebuah industri, walau ilegal.
Dan M terakhir adalah mobility (aktifitas,red), seringnya seseorang bepergian keluar kota, jauh dari keluarga dan mengerjakan prilaku negatif atau transaksi seksual secara serampangan dan beresiko.
Peran hotel, wisma dan penginapan sebagai penyedia jasa, ujar Suayatno lagi, adalah melalui media promosi di tempat penginapan yang mereka kelola, menyebarluaskan informasi bahaya HIV/AIS kepada tamu yang menginap melalui baleho ataupun leaflet. Yang terpenting adalah mengawasi tamu-tamu yang dtaang menginap, tidak menerima tamu sembarangan apalagi bukan sebagai suami istri, serta tidak menyediakan jasa PSK.
"Saya selaku ketua KPA dan Wakil Bupati mengimbau pengelola hotel, wisma dan penginapan untuk bekerjasama dengan KPA dalam pencegahan HIV/AIDS di Bengkalis ini. Untuk itu, hari ini kita bersama menyepakati beberapa rekomendasi tentang penanggulangan HIV/AIDS, karena penyakit ini sudah begitu menakutkan, tidak mengenal usia serta golongan manapun," ajak Suayatno.
Pada kegiatan workshop itu disepakati juga sejumlah butir nota kesepahaman tentang penanggulangan atau pencegahan HIV/AIDS melalui peran serta penyedia jasa penginapan dari berbagai tingkatan hunian di Bengkalis. Seperti yang disampaikan salah seorang pengelola penginapan Norizal S.Sos bahwa yang terpenting adalah peran pemerintah bersama KPA mengawasi berbagai prilaku tidak sehat yang terjadi di tengah masyarakat.
"Untuk tamu-tamu hotel kita sangat selektif, tidak menerima tamu sembarangan apalagi bukan suami istri. Meskipun sebenarnya penyebaran HIV/AIDS itu 70 persen terjadi diluar hotel atau penginapan," ujar Norizal memberikan alasan.
Turut hadir dalam warkshop tersebut, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Diskes Bengkalis Rita Puspita dan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Lingkungan Diskes Irawadi. Hanya saja workshop tersebut, mayoritas pesertanya bukan pengambil kebijakan di hotel, wisma dan penginapan, tetapi yang diutus adalah jajaran staf. (fer)
(47) Dibaca - (0) Komentar
|
[ Kirim Komentar ]
|