| | | | | | | |
Rabu, 29 Oktober 2014  
DariRiau.com / Otonomi / Disdik akan Tertibkan PAUD tak Punya Luas Lahan Kurang 2.500 Meter

Disdik akan Tertibkan PAUD tak Punya Luas Lahan Kurang 2.500 Meter


Jumat, 24/10/2014 - 09:42:45 WIB
DARIRIAU.com - Kedepannya, lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak hanya akan bersaing dalam hal kurikulum, tapi akan didorong pada persaingan fasilitas.

Ha itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau Dwi Agus Sumarno pada acara Sosialisasi pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berbasis Melayu se Provinsi Riau tahun 2014, di hotel Furaya Pekanbaru, Kamis (23/10) malam.

Dwi menjelaskan hal itu sangat penting karena PAUD ke depan harus fokus menjadi bagian dari pembentukan karakter anak didik, yang nantinya akan bisa diterapkan pada usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan seterusnya.

"PAUD itu masa pembentukan psikomotorik anak harus digerakkan, jadi sangat penting lembaga-lembaga PAUD memiliki berbagai peralatan bermain dan sarana prasarana untuk anak-anak itu dalam mengembangkan psikomotoriknya," tegas Dwi.

Mantan Direktur IPDN kampus Riau di Rokan Hilir ini menambahkan, ke depan untuk PAUD minimal harus memiliki luas tanah 2500 meter persegi, keberadaan lembaga PAUD yang berada di rumah tidak ditunggui, hanya halaman rumah sebagai tempat bermain, dan contoh lembaga PAUD yang sempit lainnya, akan dilakukan penertiban.

Berdasarkan aturannya, sebuah lembaga PAUD itu ada tempat permainan di luar dan di dalam, ada kebun, anak-anak harus diajarkan mencintai lingkungan. "Dia harus tahu mana yang panas dan yang dingin, itu yang keras, itu yang lunak, psikomotorik anak harus dikembangkan," tegasnya.

Pola lembaga PAUD berorientasi pada keuntungan harus segera dirubah menjadi kepada pemberian dan penumbuhan psikomotorik seorang anak, masa PAUD itu dimana anak-anak hanya untuk ceria, bagaimana ketika mereka kesekolahnya ceria dan pulangnya juga ceria.

"Jangan mereka diberi tugas rumah, diajarkan bahas Inggris, diajarkan berhitung, itu menyalahi aturan, yang hanya akan memberi dampak tidak baik pada anak saat memasuki tingkatan sekolah yang lebih tinggi lagi nantinya," ujar Dwi.

Sementara Ketua Panitia acara Dian, menjelaskan, usia PAUD (0-6 tahun) merupakan periode kritis dalam tahap pengembangan manusia, karena itu anak harus ditumbuhkan karakternya pada saat usia tersebut.

Pemberian materi keagamaan, akhlak dan moral lebih diperlukan, ketimbang mereka diajarkan membaca atau menulis serta berhitung. "Mereka pada usia ini cukup sampai pada tahap pengenalan saja terhadap angka dan huruf-huruf," jelasnya.

Khusus untuk PAUD berbasis Melayu ini nantinya bagi PAUD-PAUD di Provinsi Riau akan menjadikannya sebagai  muatan lokal di lembaga PAUD.

"Kegiatan ini diikuti sebanyak 324 peserta dari 12 Kabupaten dan Kota di Provinsi Riau," ungkapnya. (mad)

 
| | | | | | | |
| Redaksi | Info Iklan |
Copyright 2012 DariRiau.Com, All Rights Reserved