| | | | | | |
Sabtu, 07 Desember 2019  
DariRiau.com / Ragam / Penelitian: Biskuit Protein Mengandung Lemak Jenuh Tinggi

Penelitian: Biskuit Protein Mengandung Lemak Jenuh Tinggi


Sabtu, 23/11/2019 - 17:17:57 WIB
ilustrasi
DARIRIAU.COM – Sebagian orang beranggapan bahwa protein bar atau biskuit protein merupakan alternatif makanan sehat. Namun, baru-baru ini sebuah penelitian merilis, protein bar nyatanya mengandung lemak jenuh yang sangat tinggi. 

Lebih lanjut berdasarkan penelitian itu, coklat menjadi bahan utama dalam biskuit protein, selain dari lemak jenuh yang mengandung gula dan garam berlebih. 

Director of Human Health & Nutrition, Dr Catherine Conlon mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir, pihaknya juga telah mengamati peningkatan signifikan terkait makanan dan minuman berprotein tinggi. Di mana jumlah yang beredar dipasaran saat ini berlangsung secara konsisten dan bervariasi.

"Dari bar, susu dan yogurt, makanan berprotein tinggi sekarang menjadi makanan utama di supermarket,” ujar dia seperti dilansir belfastlife, Sabtu (23/11).

Menurut dia, berdasarkan penelitian yang dilakukan, sebanyak satu dari tiga orang yang disurvei (37 persennya) menganggap biskuit protein sebagai makanan sehat. Padahal, makanan yang diproses dengan kandungan kalori tinggi itu memiliki kandungan layaknya sebatang cokelat.

“Yang terbukti dari data diet ini adalah, pria dan wanita dalam penelitian ini sudah mengkonsumsi protein lebih dari cukup. Sehingga, tidak membutuhkan protein ekstra yang diproses seperti ini,” katanya.

Diketahui juga, sebanyak 83 makanan ringan dan minuman protein tinggi yang dimaksud berasal dari supermarket di Irlandia. Di mana makanan tersebut adalah, protein bar, yoghurt, produk yoghurt lainnya dan minuman susu.

Lebih jauh, sebanyak, 39 protein bar menjadi subjek penelitian, di mana sekitar 38 persennya menjadikan coklat sebagai bahan utama. Bahkan, 77 persen bahannya diketahui adalah lemak jenuh tinggi, selain dari kandungan garam yang mencapai 79 persen.

Selain itu, menurut sumber industri dalam rentang 2010 hingga 2016, diketahui juga ada peningkatan produk dengan klaim protein tinggi, yang mencapai 498 persen. Dr Conlon menegaskan, kandungan lemak, gula dan garam memang diperlukan dalam produk olahan tinggi protein. Sebab, penggunaan bahan itu yang menjadikan rasa lebih enak dan memiliki nilai jual.

“Jadi jika Anda membutuhkan sumber protein sebagai makanan ringan, alternatif seperti kacang-kacangan, segelas susu atau yoghurt adalah cara untuk mengganti makanan tersebut," ungkap dia. (republika.co.id)



| | | | | | | |
Redaksi
Copyright © PT. INSPIRASI DARI RIAU, All Rights Reserved - (2012-2015)