| | | | | | |
Jum'at, 18 Oktober 2019  
DariRiau.com / Budaya / Ahli Waris Minta BPCB Sumbar Hentikan Penggalian Sumur di Areal Candi Muara Takus

Ahli Waris Minta BPCB Sumbar Hentikan Penggalian Sumur di Areal Candi Muara Takus


Kamis, 12/09/2019 - 06:25:09 WIB

DARIRIAU.COM - Niniok Datuok Ghajo Dubalai, selaku pucuok soko pisoko jo limbago Kedatuan Muotakui, meminta Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat (BPCB Sumbar) menghentikan renovasi pembuatan 50 sumur di Komplek Candi Muara Takus. 

Alasannya renovasi komplek Candi Muara Takus tidak melibatkan ahli waris sebagai pendamping sehingga dikhawatirkan benda-benda artefak yang terkandung di dalam tanah tidak tahu dibawa ke mana.

"Berapa banyak sejak dahulu dilakukan ekskavasi, hasil benda, artefak kita yang ditemukan tidak tahu ke mana saja dibawa, di musium mana saja, benda apa saja yang ditemukan," katanya, Rabu (11/9/2019).

"Ini perlu kejelasan. Makanya kita minta museum terlebih dahulu didirikan di Komplek Candi Muaratakus sebelum melakukan ekskavasi dan lainnya. Kita ada manglin, panglimo, para datuk-datuk adat dan penghulu selapan," terangnya lagi.

Dt Nasrul selaku Niniok Datuok Ghajo Dubalai mengatakan, mau tidak mau renovasi harus dikerjakan bersama sesuai Tupoksi masing-masing. 

Kalau tidak bersama-bersama dikhawatirkan tindakan dan atau program apapun yang dibuat BPCB, Dinas Pariwisata Dan Dinas Kebudayaan tidak akan pernah mampu menjadikan komplek Kedatuan Muotakui ini seperti semula.

"Ya harus bersama. Kami selaku pewaris candi ini meminta semua pihak yang terkait mengkomunikasikannya dengam kami. Kami siap bekerjasama. Jangan barang yang  sudah diputuskan dibawa ke kami," yjar Pucuok Soko Pisoko Jo Limbago Andiko 44 itu.

Ketua Yayasan Matankari, Amirullah, Spd mengatakan, bahwa pentingnya pihak BPCB untuk berkoordinasi dengan para ahli waris. 

"Ini sudah kita ingatkan sejak tahun 2013 silam. Banyak hal-hal yang tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Walaupun pihak BPCB adalah tangan pemerintah pusat untuk urusan cagar budaya, namun sebaiknya bersama-sama dengan ahli waris, selaku pemilik sah candi ini secara turun temurun," ujar Amirullah.

Ditambahkannya, misalnya penempatan, atau pemetaan arena bermain, pengunjung untuk anak-anak,  ini mesti dilihat dan diperhatikan baik-baik. Tidak semua areal atau lokasi bisa dijadikan untuk itu. Apalagi sumur yang notabenenya penggalian, yang mesti paati itu bukan bagian dalam wilayah candi atau situs. Ada tempat-tempat yang disakralkan. 

"Ada tempat para Dhatu, para Dewi, para Puti dan lainnya. Hal-hal  inilah yang mesti dilakukan koordinasi dengan ahli waris," terang mantan penyuluh budaya Kemendikbud itu.



| | | | | | | |
Redaksi
Copyright © PT. INSPIRASI DARI RIAU, All Rights Reserved - (2012-2015)