| | | | | | |
Selasa, 24 09 2019  
DariRiau.com / Internasional / Turtuk, Kisah Desa yang Kehilangan Negaranya

Turtuk, Kisah Desa yang Kehilangan Negaranya


Rabu, 07/08/2019 - 20:09:36 WIB
BBC Travel
DARIRIAU.COM - Jauh di pedalaman India sana tersimpan cerita yang menyayat hati. Suatu desa, yang kehilangan negaranya.

Desa Turtuk namanya. Mungkin namanya kurang familiar di telinga traveler. Tak ayal, lokasinya seolah tersembunyi di daratan tinggi Ladakh, India. Jauh dari mana-mana dan butuh perjalanan panjang untuk tiba di sana.

Dilansir dari BBC Travel, Rabu (7/8/2019) Turtuk disebut sebagai 'Desa yang Kehilangan Negaranya'. Turtuk merupakan bagian dari India, tapi dulunya adalah wilayah dari Pakistan.

Sejarahnya, di tahun 1971 ketika peperangan antara India dan Pakistan. India menguasai Turtuk karena dinilai merupakan wilayah yang berbahaya. Dinilai, tentara Pakistan bisa masuk lewat situ dan selanjutnya menyerang wilayah India lainnya.

Celakanya, ketika itu India benar-benar mengisolasi Desa Turtuk. Penduduknya dijaga setiap hari, tidak boleh ada yang meninggalkan desa. Pun orang-orang desa yang sedang merantau dan ingin pulang ke desanya, tidak diizinkan masuk.

Penduduk Desa Turtuk pun tak bisa melawan India. Mereka kalah jumlah, apalagi peralatan perang. Penduduknya hanya bisa pasrah dan merelakan kenegarannya berganti dari warga negara Pakistan menjadi warga negara India.

Beberapa tahun belakangan ini, Turtuk menjadi destinasi anti mainstream bagi traveler dunia yang suka bertualang. Untuk menuju Turtuk butuh perjuangan yang tak mudah.

Satu-satunya jalan keluar-masuk ke sana adalah melalui Kota Leh. Jaraknya 250 km, meliak-liuk di pegunungan dan medan yang berat.

Asal tahu saja, Desa Turtuk berada di Lembah Nubra dan dikelilingi Sungai Shyok. Lembah tersebut masuk dalam kawasan Ladakh di Negara Bagian Jammu dan Kashmir, India bagian utara.

Desa Turtuk berada di ketinggian 2.900 mdpl. Kalau musim panas, bisa terasa sangat panas. Oleh sebab itu, penduduknya memiliki budaya unik dengan menumpuk bebatuan dalam jumlah besar semacam seperti bunker.

Tumpukan bebatuan akan membuat udara menjadi dingin. Lalu di situlah, bahan-bahan makanan seperti daging dan lainnya disimpan agar bisa awet. Suatu sistem pendinginan alami yang menarik, yang mereka sebut 'Nangchung' alias Rumah Dingin.

Lebih menariknya lagi, Penduduk Desa Turtuk menganut agama Islam. Jangan heran, banyak wanitanya yang mengenakan hijab dan ada masjid.

Mereka disebut Muslim Noorbakshia, yang bahasanya Balti (suatu bahasa Tibet dengan dialek terkuno). Untungnya ketika pemerintah India menduduki desa tersebut di zaman dulu, tidak ada paksaan pindah agama atau lainnya. Penduduk Desa Turtuk tetap dibiarkan dengan agama yang dianutnya.

Penduduk Desa Turtuk hidup dengan cara berladang. Tanahnya yang subur, membuat mereka mudah untuk menanam berbagai tumbuhan dan mendapatkan bahan makanan. Ada kenari, gandum, buah aprikot dan masih banyak lagi. Mereka juga berternak sapi, sebagai sumber makanan daging.

Tahun 2010, Desa Turtuk sudah terbuka untuk wisata. Meski yang datang belum banyak, tetapi mereka senang ketika ada turis yang datang dan akan mengenalkan kehidupan mereka.

Desa Turtuk hidup dengan damai, penduduknya saling bahu-membahu. Mereka pun sudah lama mengikhlaskan untuk pindah kewarganegaraan menjadi orang India.

Selamat datang di Turtuk, desa yang sejatinya kehilangan negaranya! (sumber: BBC Travel/detik.com)



| | | | | | | |
Redaksi
Copyright © PT. INSPIRASI DARI RIAU, All Rights Reserved - (2012-2015)