| | | | | | |
Rabu, 21 November 2018  
DariRiau.com / Politik / Momentum Pelukan Jokowi-Prabowo Membawa Masyarakat Menjadi  Melankolis

Momentum Pelukan Jokowi-Prabowo Membawa Masyarakat Menjadi  Melankolis


Kamis, 30/08/2018 - 22:20:03 WIB

DARIRIAU.COM - Pakar Komunikasi Politik Universitas Jayabaya, Lely Arrianie mengatakan hingga saat ini mayoritas masyarakat masih hanyut oleh momentum Presiden Joko Widodo dan Ketum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berpelukan di venue pencak silat Asian Games 2018, padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) , Jakarta, Rabu (29/8/2018).

Lely mengatakan pelukan dua capres usai pesilat Hanifan Yudani Kusumah meraih medali emas itu benar-benar membawa pesan damai, kesejukan dan keteduhan bagi masyarakat Indonesia. Aksi yang menarik perhatian dan menjadi viral di sosial media ini pun dinilai memberi dampak positif bagi Pemilihan Presiden 2019 nanti.

“Meski para pendukungnya kerap berselisih dan berbeda pendapat, namun kedua capres tetap memiliki keteduhan bersikap dengan berpelukan berselimut satu bendera kebangsaan Merah Putih, “  ujar Lely dalam diskusi bertajuk 'Pelukan Jokowi-Prabowo Bakal Dinginkan Suhu Politik?' di media center Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (30/8/2018).

Lely menambahkan momentum pelukan Joko Widodo dan Prabowo pun berimbas ke kalangan insan media. Jika biasanya tulisan di berbagai media cetak, media online dan media elektronik yang selalu penuh intrik, hoax dan provokatif, saat ini sudah menjadi adem ayem.

“Kemesraan Jokowi-Prabowo membuat wartawan saat ini pun menjadi melankolis. Karya tulis jurnalis yang penuh provokasi, terbawa arus dengan adegan singkat pelukan Jokowi-Prabowo, “ ujar Lely.

Lely menegaskan situasi yang penuh melankolis ini harus segera diakhir dan berubah. “Pelukan itu untuk dinikmati sesekali boleh. Tapi tak boleh terjadi selamanya suasana melankolis., “ ujarnya.

Momen pelukan yang diinisiasi oleh Hanifan itu lanjut Lely telah menciptakan bahasa komunikasi sarat aliran unsur positif dan masyarakat dapat mempersepsikan gambaran hal-hal positif saat ini. "Momen itu tidak dibentuk secara sengaja oleh para promotor politik dan Hanifan telah menjadi informan, karena bisa menciptakan aura positif kepada masyarakat, " katanya.

Lely mengaku terharu melihat peristiwa pelukan Jokowi-Prabowo yang disaksikan oleh ribuan penonton final pencak silat di padepokan pencak silat TMII. "Saya ikut terharu dan sempat berucap 'nice gesture', " katanya.

Dalam kesempatan sama  Wasekjen Partai Golkar Ache Hasan Syadzili menyebut momen pelukan dua orang calon Indonesia1 itu membuktikan sifat kenegarawanan dua kandidat yang akan berkompetisi di Pilpres. Meskipun beda jalan politik di Pilpres, keduanya tetap bersatu padu saat memperjuangkan kemenangan bangsa.

Pelukan antara Prabowo-Jokowi itu menunjukkan makna luar biasa bagi kita semua sebagai sebuah bangsa, " ujar Ache.

Menurut wakil rakyat dapil Banten itu, momen pelukan dua capres sangat mendinginkan suasana Pilpres 2019 yang semala ini cukup panas, meskipun tahapan kampanye belum dimulai. Usai adegan pelukan, seluruh masyarakat Indonesia merasa dipersatukan dan gembira luar biasa.

"Memang, kita semua berhadapan dengan negara lain, maka seharusnya kita bersatu. Ini merupakan cermin dari kita menghadapi Pilpres 2019 nanti, " ujarnya.

Sedangkan Wakil Ketua Komisi II DPR Ahmad Riza Patria sejatinya tidak ada pertentangan diantara para elit politik. "Ada kekuatan besar dan menjadi ancaman dari asing, yang ingin membuat bangsa Indonesia ini terpecah belah. Masyarakat harus memahami hal itu, " ujarnya.



| | | | | | | |
Redaksi
Copyright © PT. INSPIRASI DARI RIAU, All Rights Reserved - (2012-2015)