| | | | | | |
Selasa, 14 08 2018  
DariRiau.com / Ragam / Catat! Tak Semua Jenis Kurma Cocok Ditanam di Indonesia

Profesor dari Iraq Tanam Kurma di UIR
Catat! Tak Semua Jenis Kurma Cocok Ditanam di Indonesia


Jumat, 20/04/2018 - 16:41:06 WIB

DARIRIAU.com - Anda yang berminat atau sedang menggeluti budidaya tanaman kurma ada baiknya memperhatikan varietas yang akan ditanam. Sebab tidak semua jenis kurma cocok ditanam di Indonesia, khususnya di Riau.

Salah satu bibit tanaman kurma yang cocok dengan geografis dan suhu di Indonesia adalah Baari.

Hal tersebut disampaikan Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (UIR), Fathurrahman SP M.Sc, usai acara menanam pohon kurma jenis Baari di halaman masjid Al Munawwaroh Universitas Islam Riau Kampus Perhentian Marpoyan Pekanbaru, Jum'at siang (20/4/2018) yang dilakukan Prof. Abdul Basit Qudah dari University of Al-Basra Iraq.

Penanaman bibit kurma Baari ini berlangsung usai guru besar tersebut menyampaikan Kuliah Umum bertajuk, 'Prospek Riset dan Budidaya Tanaman Kurma di Indoensia (Prospects Risearch and Cultivation Date Palm in Indonesia).

Kegiatan yang diselenggarakan Prodi Agrotekhnologi Fakultas Pertanian UIR ini dihadiri Dekan Fakultas Pertanian Dr. Ir. Ujang Paman, Sekretaris Umum YLPI Riau, H. Sudarmo Hasan MA, dan sejumlah Dosen seperti Drs. H. Rustam Effendi, H. Syafruddin Sa'an, Lc., M.A.

Empat batang pohon kurma yang ditanam Prof. Abdul Basit Qudah ini dibawa sendiri oleh Prof. Abdul Basit dari Iraq untuk dibudidayakan di Uiversitas Islam Riau.

"Sama dengan jenis bibit yang ditanam di Thailand dan di beberapa masjid di Pekanbaru, antara lain masjid Al Falah Darul Muttaqiin. Juga yang dikembangkan di beberapa daerah di Riau," kata Fathurrahman.

Dijelaskan Fathurrahman, menurut Prof. Abdul Basit, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya pohon kurma di Indonesia. Yakni bibit, pemeliharaan atau perawatan dan lingkungan. Bibit yang cocok ditanam di negeri ini harus bibit yang jenisnya sesuai dengan geografis Indonesia sebagai daerah tropis.

"Kenapa banyak kita lihat tanaman kurma mati, itu karena bibitnya tidak cocok dengan suhu daerah kita yang panas. Beda dengan Thailand, di sana budidaya kurma termasuk yang berhasil lantaran geografisnya berada di daerah sub tropis sehingga tanaman kurma dapat beradaptasi dengan lingkungan," ujar Fathurrahman lagi.

Ahli Pertanian UIR ini melanjutkan, salah satu jenis bibit yang cocok dengan geografis Indonesia adalah baari. Kata Profesor Abdul Basit, berdasarkan kajiannya varitas baari cocok hidup di daerah bersuhu tinggi dengan suhu optimum 18-28 derajat celcius. Sepanjang perawatannya bagus, tanaman kurma akan tumbuh baik.

"Ini sudah kita buktikan. Beberapa budidaya tanaman kurma yang jenis bibitnya baari bisa hidup bahkan bernilai ekonomis bagi yang menanam. Kita akan memperbanyak bibit ini melalui kultur jaringan untuk mendapatkan bibit tanaman betina," jelas Fathurrahman.

Menurut Fathurrahman, tanaman kurma lebih bernilai ekonomis dibanding sawit yang sudah berkembang di Riau.

Berdasarkan kajiannya perbandingan kurma dengan sawit adalah satu berbanding 100. Harga jualnya juga lebih mahal. Satu kilogram kurma bisa mencapai Rp 300ribu lebih sementara sawit hanya berkisar Rp 1.500 perkilo. Belum lagi khasiatnya. Jadi, ia yakin, bila terus dibudidayakan kurma bukan tak mungkin dapat menggantikan posisi sawit.

"Minat masyarakat menanam kurma sudah mulai tumbuh karena dipancing oleh Thailand. Kurma juga tanaman yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW," tukas Fathurrahman.



| | | | | | | |
Redaksi
Copyright © PT. INSPIRASI DARI RIAU, All Rights Reserved - (2012-2015)